TfMlGpA0TSd6GUd6GSGlBUM9BY==

Mark Zuckerberg Meredam, Saham Facebook Akhirnya Naik


Adsradiofm.com -  - Saham Facebook Inc meningkat 4,2% paling tinggi pada perdagangan Kamis (5/4/2018) waktu setempat. Hal ini dipengaruhi statement CEO Facebook Mark Zuckerberg yang menegaskan kebocoran data tidak mempengaruhi pengguna dan sales iklan.

Saham Facebook telah jatuh hingga 16%, dan mengalami total loss hingga US$ 80 miliar sejak Maret 2016, ketika New York Times dan London Observer yang notabene media ternama di dunia membuka skandal kebocoran data oleh Cambridge Analytica.

Facebook, Inc. pada perdagangan terakhir tercatat masih positif dengan naik 2,73% atau 4,24 poin ke US$ 159,34 per lembar saham


Dilansir Reuters Jumat (6/4/2018), Komisaris Privasi Australia (Australia Privacy Commisioner) juga telah memulai investigasi formal ke raksasa media sosial Facebook setelah perusahaan itu mengonfirmasi bahwa data dari 300.000 pengguna asal Australia bisa jadi sudah digunakan tanpa izin.

Investigasi itu akan mempertimbangkan apakah Facebook telah melanggar undang-undang privasi Australia, kata Komisioner Angelene Falk dalam sebuah pernyataan resmi.

Facebook telah mengumumkan lokasi para pengguna yang datanya didapatkan lembaga konsultasi politik asal Inggris Cambridge Analytica tanpa izin. Dari 87 juta pengguna yang bocor datanya, lebih dari 1 jutanya berasal dari Indonesia.

"Secara total, kami yakin informasi Facebook milik sekitar 87 juta pengguna, sebagian besar di antaranya berasal dari AS [Amerika Serikat], diduga telah dibagi secara tanpa izin dengan Cambridge Analytica," tulis Chief Technology Officer Facebook Mike Schroepfer dalam pernyataan resmi tertanggal 4 April 2018 yang dikutip CNBC Indonesia, Kamis (5/4/2018).

Dalam pernyataan tersebut terungkap sebanyak 1.096.666 pengguna asal Indonesia berada dalam daftar tersebut. Jumlah itu, meskipun sangat jauh bila dibandingkan pengguna dari AS sebesar lebih dari 70 juta, tetap saja membuat Indonesia berada di peringkat ketiga dengan jumlah pengguna terbanyak yang terdampak skandal tersebut setelah Filipina.

Porsi pengguna dari AS yang terdampak mencapai 81,6% sementara Filipina dan Indonesia masing-masing 1,4% dan 1,3%.

CEO Facebook Mark Zuckerberg menegaskan platform media sosialnya tidak menjual informasi pengguna yang dimilikinya, meski mengaku Facebook mungkin menggunakan informasi pengguna untuk membantu pengiklan menargetkan iklan agar lebih efektif.

"Saya pikir kami perlu bekerja lebih baik lagi dengan menjelaskan prinsip dari apa yang kami operasikan di balik ini sistem ini," ujarnya dalam kaitannya dengan pemahamam pengguna bahwa mereka memilih membagi isi profil mereka dengan temannya. "Kami tidak akan pernah menjual informasi kalian."

Zuckerberg menjawab pernyataan wartawan dalam sebuah conference call hari Rabu (4/4/2018) sebagaimana dilaporkan CNBC International.

Tidak ada untungnya bagi Facebook untuk membocorkan informasi pengguna kepada pengiklan, tekannya. Mengizinkan layanan data pihak ketiga untuk membantu pengiklan menargetkan pengguna merupakan 'sedikit dari apa yang kami kerjakan.'

"Cara kami menjalankan layanan: Orang-orang membagikan informasi," ujar Zuckerberg. "Kami menggunakan cara itu untuk membantu orang-orang terhubung. Kami memasang iklan agar orang-orang di seluruh dunia bisa menggunakan layanan dengan gratis."

Sikap Indonesia

Terkait dengan hal kebocoran data dan Indonesia yang menjadi korban, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara memastikan data-data kebocoran tersebut akan disalahgunakan. 


"Yang udah pasti data, hanya dipakai untuk apa saya belum tahu, kekhawatirannya dipakai untuk pilpres seperti di AS yang konon di berita dikatakan demikian, saya tidak mau berandai-andai," jelasnya usai bertemu dengan pihak Facebook, Kamis (5/4/2018). 

Rudiantara juga mengatakan isu lain adalah data pengguna facebook di RI disalahgunakan untuk menyebarkan hoax melalui media sosial. 

"Karenanya saya mengambil posisi bahwa saya mengancam menutup Facebook dan pemerintah tidak mempunyai keraguan apabila memang harus menutup Facebook bila digunakan untuk hoax. Kita tidak ingin seperti kejadian di Rohingya," kata Rudiantara.

SUMBER : www.cnbcindonesia.com / Herdaru Purnomo

Komentar0

Type above and press Enter to search.